Kamis, 11 September 2008

SEMANGAT SEBAGAI ENERGI POTENSIAL PENDUKUNG TUJUAN

Dalam hidup kita menjalani tugas dan pekerjaan dengan intensitas yang berbeda-beda, intensitas kerja untuk setiap orang tidak sama begitu juga intensitas tugas dan pekerjaan dari waktu ke waktu juga berbeda.

Jika sekarang kita menghadapi tugas dan pekerjaan tidak terlalu banyak barangkali esok akan lebih banyak atau lebih sedikit. Sering kita menghadapi pekerjaan yang menurut perkiraan kita mudah dan ringan ternyata dalam penyelesaiannya cukup menyita waktu yang banyak sementara kita menghadapi pekerjaan yang menurut perkiraan kira sangat sulit dan sangat berat sehingga kita merasa tidak sanggup untuk menyelesaikannya dalam waktu yang cukup.

Kita sering bersikap menunda atau juga kita bersikap masa bodoh karena merasa tidak sanggup untuk menyelesaikannya. ..... namun apa yang terjadi setelah kita laksanakan pekerjaan berat tersebut ternyata dapat terselesaikan juga. Barangkali kita sama pernah merasakan terutama saya sendiri beserta tim di unit kerja saya (Seksi Program dan Sistem Informasi LPMP Provinsi Jambi) ketika kami melakukan entry data baik SIMPTK maupun SIMNUPTK pada awalnya kami semua merasa tidak sanggup untuk mengerjakannya, bayangkan data guru provinsi jambi dengan jumlah lebih kurang enam puluh ribuan orang dientry oleh tim kami yang berjumlah 10 orang ternyata selesai juga (SIMPTK selesai dan SIMNUPTK juga selesai).

Memang pada awalnya terasa berat apalagi belum sampai separuh dari jumlah data yang ada, ditambah pula dengan melihat instrumen yang sudah terkumpul cukup banyak (satu ruangan) terasa keder juga namun saya mencoba memberi semangat kepada tim untuk tetap melakukan entry data dan memang ternyata tim kami sudah tertanam semangat yang tinggi. Pernah saya menyampaikan ungkapan kepada teman-teman apabila pekerjaan ini dikerjakan secara terus-menerus akhirnya akan selesai dan apabila kita telah mencapai lebih dari 60%, maka untuk penyelesaian selanjutnya kita tidak merasakan berat lagi kitapun dapat melihat kebelakang bahwa perjalanan kita sudah cukup jauh tinggal menyelesaikan sedikit lagi dan secara tak langsung telah tertanam pula rasa kepuasan terhadap hasil pekerjaan yang telah kita lakukan sementara ini.

Apabila sudah selesai pekerjaan yang kita lakukan, maka untuk mencapai hasil yang lebih baik kita dapat melakukan editing hasil pekerjaan, nah sampai tahap ini tentu kita bekerja terasa lebih baik, sama halnya apabila kita berkeinginan untuk menulis cerita tetapi apabila kita tidak pernah melakukannya kapan tulisan itu akan jadi….. sampai kapanpun tidak pernah jadi. Sementara apabila kita lakukan penulisan tersebut sampai selesai apapun hasilnya benar atau salah kita sudah dapat melihat tulisan kita dan kita dapat melakukan perbaikan-perbaikan untuk lebih menyempurnakan tulisan tersebut.Dari uraian tersebut, teringat saya dengan istilah second win, dimana hal ini sering muncul pada atlit ketika sedang berolah raga misalnya untuk lari jarak jauh terkadang kita merasakan godaan untuk berhenti padahal baru separuh perjalanan, tetapi apabila kita mampu untuk mengatasi godaan tersebut dan menimbulkan dorongan pada diri kita untuk menyelesaikan jarak tempuh maka untuk penyelesaian berikutnya akan terasa lebih ringan.

Tetapi apabila kita berhenti sejenak dan merasakan beratnya beban dan jauhnya perjalanan lagi yang akan kita tempuh, maka timbullah rasa berat untuk melanjutkannya (ada kecenderungan untuk berhenti dan berhenti lagi). Hal ini memang pernah saya rasakan sebelumnya (baik berolah raga maupun menulis).Semangat merupakan pendorong untuk memotivasi diri, kalau dapat saya katakan bahwa semangat merupakan Energi Positif dan anugrah yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta kepada diri setiap manusia, bayangkan saja apa jadinya bila kita tidak punya semangat, sulit dibayangkan bukan. Nah maka peliharalah semangat dan bangkitkanlah semangat terutama pada diri kita maupun tim (kelompok) agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan baik. Serta mendapat Ridho dari Sang Pencipta kita.

Tidak ada komentar: